Perpektif gua (perempuan dan pernikahan) #1
Jadi begini.
Waktu itu gua lagi duduk di suatu tempat yang udah gua kenal lama. Gua kenal persis gedungnya, maupun orang-orangnya, yaa walaupun mungkin orang itu ga kenal gua, atau walaupun gua ngga tau namanya tapi gua tahu mukannya. Dan gua punya kebiasaan perhatiin orang, ga tau kenapa. Gua sering banget perhatiin orang-orang, terutama dia yang misalnya awalnya tipikal gini terus jadi gitu. Gua pasti perhatiin dia.
Dan kali ini, perhatian gua tertuju pada seorang perempuan yang memunculkan pikiran begini “ yaallah kasian banget yaa jadi cewe, kalau udah memasuki umur 23,24,25,dst dan dibingungkan dengan masalah pernikahan, siapakah pria yang ingin menikahiku? Pria yang manakah? Apakah pria yang kuharapkan atau malah yang tidak kuharapkan yang akhirnya menikahiku, atau mungkin sampai saat ini belum ada seseorang pria yang berniat untuk menikahiku?
Pertanyaan yang mudah dan sangat sulit menjawabnyaa, bahkan dia yang bertahun-tahun lamanya pacaran pun tidak menjamin kesiapan lelakinya untuk menikahinya. Bukan karena apa-apa. menurutku itu resiko yang kamu bakal hadapi jika menjalin hubungan dengan seseorang yang memiliki usia yang sama dengan mu, atau bahkan lebih muda dibanding dirimu.
Karena menikah adalah kesiapan dari lelaki untuk bertanggung jawab akan hidupmu sekarang atau nanti,atau jika dalam islam bertanggung jawab didunia maupun diakhirat (eaaa) baik bertanggung jawab kepada kamu sendiri ataupun orang disekitarmu, dan tentu saja dia tidak bisa melepas tanggung jawab atas orang yang sudah lama didekatnya, contohnya keluarganya.
Mengapa menikahi seorang perempuan itu menjadi serumit itu, mungkin dia ingin memberimu kehidupan yang lebih baik ( jika berasal dari kalangan yang B aja atau B banget ya ), dan tentu saja tidak bisa dicapai dalam kurun waktu yang singkat.
Tapi ada saja memang, dia yang pacaran seumuran dan si lelakinya memiliki kemantapan untuk segera meminang kekasihnya, ya mungkin dia sudah siap , baik dari segi materi maupun non materi.
Tapi ada juga yang sudah lama berpacaran, pas sang lelakinya siap untuk menikahi perempuannya. Malahan perempuannnya yang menolak dan beralih ke lelaki yang dia anggap lebih baik, dan dia lebih percaya kepada lelaki tersebut dibanding kepada pacarnya ( yaaa yang bisa dibilang udah dikenal lama).
Dan jujur aja gua juga sebenernya bingung, dengan permasalahan yang dibilang cukup rumit, apalagi untuk kalangan perempuan yang mungkin masih tinggal dekat dengan kerabat dan lingkungannya, pasti bakal mewanti-wanti banget terkait pernikahan ini, karena yaa apalagi yang ditakutin selain branding “perawan tua”.
Menurut gua sebagian perspektif masyarakat indonesia yang menganggap seorang yang sudah berumur 22,25,26,apalagi 30,hendaknya menikah, itu perlu di perbaharui, perlu diupgrade.
soo hey jadi menikah hanya perkara umur sajakah?
Siapa sih yang ngga mau ketemu dengan orang yang baik menurut perspektif masing-masing individu, tapi yaa memang belum datang saja, lalu apakah mau dipaksakan, atau diniatkan menikah hanya memutus branding dari yang tadinya lajang menjadi menikah?
Jadi menurut gua (hahaha emang siapa sihh gua) yaa berusaha aja dulu mencari pasangan yang menurut perspektif lu, dia baik, kalau emang belum nemu cari terus, carinya sekalian ngejalanin kehidupan biasa jangan terlalu difokusin ke nyari pasangan (ya tapi terserah si), oiya buat para lelaki yang menganggap perempuan (misalnya pacarlu atau siapa gitu) ga baik, sebenernya lu nya saja yang belum berhasil melihat sisi baik dari perempuan tersebut, tapi ga dipungkiri juga banyak perempuan yang berhati licik, kayak uler bedudak (hahahah)
harus bener-bener milih orang yang baik sesuai dengan perpektif masing-masing, agar kedepannya juga baik. eaaa
Komentar